
Yang masih tertinggal saat hujan baru saja pergi
Meninggalkan jejak di kursi taman
Berupa lumut yang sudah menghijau
Tanpa sentuhan tanganku dan tanganmu
Seperti kala itu
Kita pernah di sini
Bercerita tentang peta – peta perjalanan
Ingin benar engkau temukan jawaban dari garis – garis usang legenda itu
Bagaimana matamu bisa membiru sementara legam tanahmu
Siapa dirimu, wahai sepasang mata yang memberiku tanda tanya
Pada kehakikian sebuah tanah lahir
Yang semakin samar di peta yang kerap engkau bentangkan
Tanpa pernah berani menapaki garis putus-putusnya
Lalu kuberikan padamu selimut matahari
Kukatakan, cahayanya akan menghangatkan hatimu saat engkau bimbang
Bayangannya akan memberikan arah saat engkau butuh mata angin
Jejakmu, kutemui kemudian
Meninggalkan kursi taman itu
Menyalakan peta – peta perjalanan itu
Barangkali juga persinggahan
Mungkin tanpaku
Membayangkan itu
Aku semakin rindu
Sekaligus ngilu