
Sebuah pertemuan, di sebuah tanah lapang yang luas. Dipagari bukit dan hijau yang demikian gembira. Tapi sebuah pertemuan, adalah pertaruhan. Mata menatap mata. Taji beradu taji. Menjadi menang atau pecundang, nasibnya sama. Sesaat dipuja, lalu terkapar di pisau dapur. Tapi kami para gladiator. Tarian kematian dan darah adalah hidup kami. Semua dilahirkan untuk mati. Kami tak memilih mati sebagai pejantan di ranjang betina. Atau mati di jalan pedang. Kami tidak bisa memilih. Engkaulah yang memilihkan jalan, bagi hidup kami. Sebagai bayaran atas kandang dan butiran jagung. Karena kehidupan, tidak ada yang gratisan. Kami bangga, membayarnya dengan darah dan tarian megah menjelang ajal. Terkadang, hidup memang bukan pilihan. Tapi menjadi bahagia adalah pilihan. Mungkin kami memilihnya.
Sabung ayam. Bukan perkara setuju atau tidak. Saat memotret, tangan saya sungguh dingin. Saya merasakan perihnya setiap patukan, setiap tetes darah. Tapi saya juga merasakan: harapan di sebuah perjudian nasib. Melihat harapan itu membahagiakan. Walau kemudian, kebahagian diraih dengan kesedihan yang lain. Itulah lapangan, itulah pertandingan. Kalau tidak ingin kalah, maka tidak perlu masuk ring. Saya hanya mengabadikan.








