
Bapang itu revolusioner. Ia mewakili watak ugal-ugalan, pemberontak, pemberani, dan pembuat masalah. Ia semacam bad boy, meski mengesalkan tapi dirindukan. Seorang trouble maker bila dia gagah dan pemberani, bukankah layak dijatuhi cinta? Dari keberanian dan pemberontakan, dari sanalah perubahan berasal.
Purnama meninggalkan wajah bulan 3 hari lalu, tapi ia masih terang menggantung di langit timur. Ia belum lama menampakkan diri ketika di ruang ganti Padepokan Asmoro Bangun, Dusun Kedungmonggo, Pakisaji, Malang, Jawa Timur, sibuk dengan persiapan pentas. Topeng-topeng tergeletak di atas papan. Busana berkilauan itu menunggu dikenakan. Mereka berusia belasan tahun, generasi yang dibesarkan oleh Cartoon Network dan gadget. Sama seperti remaja lain di berbagai belahan Indonesia. Punya akun media sosial dan suka selfie. Mereka juga suka menari, aktivitas yang membawa mereka membelesak ke “kekunoan” kakek nenek mereka. Barangkali begitu.

Di beberapa tempat, pagelaran tari dan seni tradisional punya panggung karena uluran pemerintah, kepedulian pihak pemodal yang masih menginginkan lembar sejarah ini terbaca mewarnai tanah ini. Pentas adalah ritual, bukan kebutuhan. Gemerlap panggung tari tidak lagi menjadi sandaran hiburan, teladan, syiar, sebagaimana zaman lampau.
Tetapi di Kedungmonggo, kesenian tradisional ini masih berdaulat, tumbuh di habitatnya. Memang tak tumbuh begitu saja seperti masa lampau. Ada yang menyirami sehingga tunas rapuh yang tergerus gemerlap budaya kekinian ini masih tangguh dan kukuh berdiri, walau hanya di ceruk senyap. Mas Handoyo dan Mbak Saini, suami istri yang saya kenal, menumbuhkan tunas rapuh ini, di antara sedikit penari topeng malangan yang tersisa dan masih setia merawat kesenian Panji. Kisah tentang Galuh Candra Kirana dan Panji Asmoro Bangun yang saya dengar sejak kecil.

Mas Handoyo meraut topeng setiap hari, mengajak dan mengajari anak-anak menari setiap Minggu siang dengan gratis, dan mementaskan mereka di panggung setiap malam Senin Legi setiap bulannya. Kadang di pentas anak (pentas yang dimainkan anak-anak), tak peduli anak-anak itu bisa menari atau tidak, mereka tetap pentas. Mengenakan busana gemerlap dan menari di atas panggung. Indah atau tidaknya tariannya, toh ini bukan kompetisi. Kegembiraan yang kemudian menumbuhkan cintalah yang coba disemai Mas Handoyo dan Mbak Saini. Ada atau tidak adanya penonton, mereka tetap menari. Menari, menari, dan menari.
Minggu, 24 Juli 2016, adalah malam kesekian kalinya ketika akhirnya saya bisa menyaksikan gebyag (pentas) secara langsung. Seorang kawan mengabari, bahwa masih ada pentas rutin di Kedungmonggo, saya ingin melihatnya. Sejak mengumpulkan data untuk National Geographic Traveler (dimuat pada Mei 2016), berkali-kali saya melingkari malam Senin Legi untuk datang. Tapi selalu saja gagal.
Malam itu, kisahnya berjudul “Rabine Bapang” (Menikahnya Bapang). Ah, Bapang! Tokoh berhidung panjang itulah yang pertama kali memikat saya. Padanya, saya jatuh cinta dengan pahatan dan karakter ini. Justru bukan kemegahan Panji Asmoro Bangun maupun lekuk cantik Sekartaji. Bapang Jaya Sentika, warna mukanya merah, kumis nunggeng, dengan hiasan cula ( di bagian dahi) berbentuk bunga matahari, dan matanya dondongan (belok). Karakter hidung panjang ini yang menjadikan dia beda. Bapang itu revolusioner, itu yang terlintas dalam benak saya. Kenyataannya memang demikian. Ia mewakili watak ugal-ugalan, pemberontak, pemberani, dan pembuat masalah. Ia semacam bad boy, meski mengesalkan tapi dirindukan. Seorang trouble maker bila dia pemberani dan gagah, bukankah layak dijatuhi cinta? Dari keberanian dan pemberontakan, dari sanalah perubahan berasal.
Tarian Bapang adalah tarian rancak, berotot, dan lincah. Kegagahan terlihat dari geraknya. Soal kisahnya ketika ia berhasil mempersunting sang putri, itu bukanlah tujuan. Saya terpesona dengan keseluruhan dari pentas malam itu. Kisah di belakang panggung, penonton, dan antusiasme penonton anak-anak yang ikut menari, sesungguhnya mereka punya idola (yang tentu saja berbeda dengan idola para “likers” Awkarin eh)…sesungguhnya, pertunjukan yang masih berdaulat di habitatnya itu jauh lebih indah dari foto buram, yang susah payah saya jepret karena minimnya cahaya. Kisah di belakang panggung seperti kisah kegigihan Mas Handoyo, Mbak Saini, dan penari-penari yang masih merawat panggung itu untuk tetap menari.
Terima kasih menerima saya dengan segala keramahan dan keindahan.






