
Pantai Permisan, Nusakambangan. Kira-kira 100m dari pantai ini, terdapat Lapas Permisan, tempat para narapidana terpidana mati.
Nusa Kambangan sohor sebagai pulau yang menyeramkan. Tempat pembuangan para bandit Zaman Mataram hingga koruptor Zaman Edan. Ada apa di balik keseramannya?
Di masjid, ketika nasib tak lagi bisa diperjuangkan, Dia adalah harapan terakhir untuk mengadu dan pulang. Bagi narapidana yang dinilai berperilaku bagus, boleh keluar untuk sholat Jumat.
Keindahan suatu tempat terlihat dari kemuramannya, demikian tulis Orhan Pamuk ketika bercerita tentang Istanbul. Nusa Kambangan barangkali lebih MURAM dibanding Istanbul. Namun sebuah kemuraman yang memikat.
Saya berdiri di Pelabuhan Wijapura, pesisir Cilacap. Dermaga ini hanya berani berbisik menyambut kapal pengangkut. Petugas bersiap siaga menyambut pengunjung dengan sangat hati-hati dan teliti. Suasananya sedikit tegang dan muram.
Pulau ini seperti sebuah kata dengan seribu makna. Ada yang menjulukinya Pulau Bui, atau Pulau yang memberi napas terakhir—bagi para terpidana mati yang dieksekusi di sini. Bahkan, ada yang menyebut “Alcatraz-nya Indonesia”. Meski sebutan terakhir itu mungkin terlalu berlebihan.



