
Kita hanya duduk saja, dalam kesunyian musim
Menunggu kabut yang menuai janji
Ia datang mengendap tanpa derap
Menyusup di celah bukit,
Tubuh cemara yang menggigil oleh ketidaktahuan
Bukankah ia kabut yang akrab?
Ada apa di balik tubuh kabut? Kamu bertanya
Kujawab, ada cahaya yang menautkan kita
Bukankah setiap sel diciptakan untuk menjadi pemburu cahaya?
Beradu langkah untuk mendapatkan yang paling terang
Tapi tahukah, Sayang?
Perburuan itu hanya akan mengundang kegelapan
Kabut itu datang, mengenakan jubah asing itu
Bahkan cemara pun tak mengenalinya
Daun jarum yang sudah membelai langit sejak kabut mentah
Tak disapa sebagaimana kawan lama
Di kejauhan,
Hujan menyingkir pelan
Masihkan engkau menjadi pemburu cahaya itu?
Pada kabut,
Engkau menatap butiran asing itu
Matamu sembab
Dingin itu
Pernah melahirkan hangat yang menjadikan kita saling dekat
Walah tak harus menjadi rekat
Apalagi tersemat tanpa sekat
Pada kabut,
Engkau ingin membisikkan cinta dalam seribu warna
Yang seharusnya tak serupa
Tapi satu dalam cinta yang akrab itu…
