Catatan Menangani Green Movement Synchronize Festival 2025

Tahun 2025 menjadi titik penting dalam perjalanan saya menangani Green Movement Synchronize Festival. Festival musik multi genre yang mendatangkan sekitar 90.000 penonton selama 3 hari di Gambir Expo, Jakarta. Tahun ini bukan sekadar kelanjutan program, tetapi lompatan pendekatan, “salingxsilang” dari lintas pemangku kepentingan.

Kegelisahan saya sudah lama. Saya “lahir” dari pergerakan lingkungan di Mapala (PMPA Kompos Faperta UNS) tahun 1998. Kemudian menjadi jurnalis yang kerap bersinggungan dengan CSO (Civil Society Organization) dan pergerakan lingkungan. Saya study master di bidang komunikasi dan membantu CSO membuat policy brief, konsep publikasi dll. Semua ini adalah “medan serius” yang punya niche sempit. Ruang ini memang harus diisi, namun ada ruang sangat-sangat luas yang dampaknya tidak hanya hari ini tapi juga pada pergerakan lingkungan ke depan. Salah satunya festival musik.

Festival musik umum seperti Synchronize Festival merupakan tantangan besar bagi saya, cara mempertemukan CSO dengan audiens yang identik dengan “gudangnya skena”. Meski tidak memulai dari nol sebab Synchronize Fest sudah punya green movement namanya S.i.S.a (System Integration for Sustainablity Act) sejak tahun 2019. Mitra yang sudah bergerak di moment ini yaitu Greeners dan Bike To Fest. Inisiatif swadaya ini konsisten dijalankan setiap tahunnya. Tugas saya sekadar memperkuat dan memperluas gerakan ini.

Instalasi “Operasi Plastik” di pintu utama Synchronize Festival 2025 kerjasama dengan Stuffo didukung WWF Indonesia. Foto: Bintang Faiz/dok. Synchronize Fest 2025

25 tahun Ruruxdemajors

Saya bergabung di Synchronize Fest pada tahun 2024, saat tengah-tengah, semua sudah berjalan untuk tahun itu. Saya mulai berkomunikasi dengan beberapa CSO, sekian perusahaan, sekian CSR, dan tahun 2024 itu, baru Noovelum yang bergabung karena terbatasnya waktu persiapan.

Tahun 2025, 10 tahun Synchronize Fest bertema “SalingxSilang” bertepatan dengan 25 tahun Ruruxdemajors. Kesempatan ini menjadi warna khusus dalam penyelenggaraan festival musik. Ada ruang jeda dari ingar bingar, diisi dengan lanskap instlasi seni kontemporer, talkshow, dan aneka kolaborasi yang menyuarakan isu lingkungan, HAM, dan keadilan sosial.

Isu serius yang biasa bikin dahi mengerut dan teriakan yang menghardik, lahir dengan “gemulai’ di ranah seni, warna, dan keindahan yang liris. Sementara di luar sana, tetap sama: ingar bingar musik, “lebaran” musik Indonesia.

Demikian konsepnya. Digagas sejak awal, kolaborasi “salingxsilang” yang melintasi batas dengan suara yang sama. Apakah mudah? Jelas tidak.

Tidak semua CSO terbiasa dengan pagelaran yang mendatangkan puluhan ribu orang, panggunug yang sangat besar, dan area yang sangat luas. Dan sebagian besar belum pernah datang ke Synchronize festival sehingga gambaran detail hanya dari presentasi. Ini jadi tantangan ketika mewujudkan ide-ide.

Di sisi lain, kantor pusat CSO yang tidak semua ada di Indonesia, punya perhatian khusus pada hal-hal tertentu misalnya sponsor rokok dan alkohol sementara industri musik rekat dengan perusahaan ini. Kami membangun jembatan yang bisa menghubungkan melalui diskusi informal, rapat-rapat panjang, hingga dua kali diskusi terpumpun (FGD) yaitu pada bulan Juni 2025 di kantor Synchronize Fest (kami menyebutnya di Ipin – karena alamatnya Jl. H Ipin) dan Agustus 2025 di Gudskul.

Pameran CSO di area D2

CSO, Kolaborasi SalingxSilang, dan Memecah Echo Chamber

Kolaborasi dengan WWF Indonesia di Operasi Plastik, salah satu program green movement Synchronize Fest bekerjasama dengan Stuffo, membuka ruang baru yang selama ini dikerjakan swadaya.

Di area D2, area ruruxdemajors yang sebelumnya belum pernah dipakai Synchronize Fest, kini oleh lebih dari 25 CSO, menjadi eksperimen sosial dan komunikasi yang sangat berharga.

Selama ini, kampanye lingkungan yang dijalankan CSO cenderung bergerak di dalam eco chamber. Pesannya berputar di kalangan yang relatif homogen: sesama aktivis, akademisi, komunitas lingkungan, atau publik yang sejak awal sudah memiliki kesadaran ekologis. Bahkan ketika CSO masuk ke festival musik, biasanya festival yang memang bertema lingkungan, di mana audiens datang dengan niat “sudah hijau” sejak awal. Akibatnya, perluasan basis dukungan berjalan lambat dan dampak pada perubahan sikap publik yang lebih luas menjadi terbatas.

Festival musik arus utama seperti Synchronize Fest menawarkan karakter audiens yang sangat berbeda. Pengunjung datang bukan untuk kampanye, melainkan untuk menikmati musik, merayakan kebersamaan, dan mencari pengalaman. Di sinilah letak peluang sekaligus tantangannya. Pesan lingkungan tidak bisa disampaikan dengan bahasa aktivisme yang kaku atau narasi krisis semata. Gerakan harus hadir sebagai pengalaman, visual, interaksi, dan cerita yang relevan dengan kehidupan sehari-hari audiens.

Kenapa CSO Perlu “Pansos”?

Pandangan terkait echo chamber menguat dari diskusi kami bersama salah satu tim CLUA (Climate and Land Use Alliance) dalam tahap persiapan. Mereka menegaskan bahwa ruang-ruang non-konvensional seperti festival musik adalah wilayah strategis yang selama ini kurang dimanfaatkan CSO. Padahal, pihak-pihak yang berseberangan dengan agenda lingkungan justru sangat sadar akan pentingnya kampanye dan awareness, serta tidak ragu mengalokasikan dana besar untuk membentuk opini publik. Jika CSO hanya fokus pada kerja-kerja tapak tanpa menyeimbangkannya dengan kerja komunikasi publik yang masif, maka narasi akan terus kalah di ruang wacana.

Dari sisi kepentingan CSO, memang benar bahwa banyak organisasi memprioritaskan dana untuk intervensi langsung di lapangan: restorasi, pendampingan komunitas, riset, atau advokasi kebijakan. Namun pengalaman Green Movement 2025 menunjukkan bahwa kampanye bukanlah elemen tambahan, melainkan bagian strategis dari perubahan itu sendiri. Tanpa dukungan publik yang lebih luas, kerja tapak sering kali berdiri sendirian dan rentan dipatahkan oleh kepentingan ekonomi-politik yang memiliki sumber daya komunikasi jauh lebih besar.

Dalam perspektif teori komunikasi,seperti gagasan Wang, Li, Lin & Zhao (2023) di buku Opinion Dynamics in Two-Step Process: Message Sources, Opinion Leaders and Normal Agents memperbarui konsep  two-step flow of communication ala Paul F. Lazarsfeld & Elihu Katz (1955). Pesan tidak harus langsung mengubah sikap semua orang, tetapi menjangkau opinion leaders baru di luar lingkar aktivis. Synchronize Fest menciptakan banyak opinion leaders baru: musisi, kreator konten, seniman, komunitas kreatif, dan pengunjung yang aktif di media sosial. Pesan lingkungan di Area D2 tidak berhenti di booth, tetapi disebarkan ulang oleh figur-figur ini ke audiens yang lebih luas.

Festival musik menciptakan kondisi low involvement learning: audiens menerima pesan tanpa merasa sedang “diajar”. Selain itu, konsep cultural branding dan entertainment-education menunjukkan bahwa pesan sosial yang dibungkus dalam budaya populer cenderung lebih mudah diterima dan diingat.

Contoh praktik serupa dapat dilihat di berbagai festival internasional. Glastonbury Festival di Inggris, misalnya, menjadikan isu lingkungan sebagai bagian dari identitas festival, bukan sekadar booth kampanye. Roskilde Festival di Denmark melibatkan NGO dalam bentuk pengalaman interaktif dan seni instalasi yang kuat secara emosional. Coachella mulai mengintegrasikan isu keberlanjutan melalui kolaborasi kreatif, bukan ceramah. Kunci dari semua contoh ini adalah integrasi pesan ke dalam pengalaman festival, bukan pemisahan antara “hiburan” dan “kampanye”.

Forum diskusi selama festival berlangsung

Ruang Digital sebagai Medan Pertarungan Narasi

Pendekatan ini tercermin jelas dalam bagaimana media meliput Green Movement 2025. Sejumlah liputan menyebut festival musik sebagai ruang yang menggabungkan musik, budaya populer, dan pesan lingkungan yang hadir lebih organik melalui pengalaman pengunjung ,  bukan paksaan kampanye.

Media menyoroti Area D2 sebagai ruang kolaboratif, bukan stand informatif tradisional, yang memicu interaksi antara audiens dan isu lingkungan melalui seni, instalasi, dan aktivitas participatory. Liputan juga mencatat bagaimana fasilitas festival (misalnya water refill station, pengelolaan sampah, dan workshop) menjadi bahan konten yang dibagikan pengunjung di media sosial, memperluas cakupan pesan di luar lokasi fisik acara.

Selain liputan di media, unggahan di medsos dari CSO menjadikan dampak ini lebih luas lagi. Misalnya yang sempat terbaca oleh saya yaitu di Project Multatuli, Greenpeace, dll.

Pengalaman ini menegaskan bahwa festival tidak berhenti di ruang fisik. Festival berlanjut di dunia maya, di mana narasi diproduksi ulang oleh pengunjung, media, dan algoritma. Saat ruang digital dipenuhi konten masif yang sering kali bertentangan dengan nilai keberlanjutan, kehadiran Green Movement 2025 menjadi upaya sadar untuk mengisi dan menyeimbangkan arus tersebut. Festival musik, dengan daya tarik visual dan emosionalnya, menyediakan bahan mentah yang sangat kuat untuk membangun narasi tandingan.

Pada akhirnya,  festival musik bukan sekadar panggung hiburan, melainkan medan strategis perebutan makna.

Festival musik adalah titik temu antara budaya populer, emosi kolektif, dan potensi perubahan sosial. Bagi CSO, masuk ke ruang ini bukan berarti mengurangi kedalaman isu, tetapi memperluas jangkauan dampak. Green Movement 2025 menunjukkan bahwa ketika isu lingkungan hadir sebagai pengalaman budaya dan diperkuat oleh liputan media serta dokumentasi digital yang memiliki peluang lebih besar untuk didengar, dirasakan, dan diperjuangkan bersama.

Tahun 2026 ini, mari bergerak lagi. Kalau ada yang belum bergabung, dengan senang hati, mari kita ngopi.

It is not just a festival, it is a movement!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *