Panggil Saya “Mas” Saja*

Aku pernah sangat menyayangi seorang laki-laki. Aneh, ya, bahkan sampai sekarang aku masih kesulitan menyebutnya dengan kalimat yang sederhana. Sebab menyayangi seseorang ternyata tidak selalu berarti ingin memilikinya. Kadang menyayangi hanya berarti: ingin tahu apakah ia baik-baik saja, ingin mendengar tawanya, ingin duduk di dekatnya tanpa harus banyak bicara. Kadang kedekatan justru membutuhkan sedikit keheningan.

Aku pernah menyimpan satu keinginan yang sangat kecil. Aku ingin memanggilnya “Mas”. Bukan “Pak”. Bukan “Bapak”. Bukan nama lengkapnya seperti yang tertulis di surat-surat resmi, undangan rapat, atau dokumen yang membuat jarak di antara kami terasa begitu jelas.

Mas.

Satu kata yang pendek. Tapi di kepalaku, kata itu punya rumah sendiri. Aku membayangkan suatu pagi, entah di mana. Mungkin di sebuah kedai kopi yang jendelanya menghadap pohon-pohon dan hujan yang sudah lama tak bertandang. Mungkin setelah perjalanan panjang. Mungkin ketika rambutnya sudah lebih banyak putih dan aku sudah tidak lagi repot menyembunyikan uban.

“Mas, mau kopi?” Sesederhana itu. Aku akan meletakkan secangkir kopi di depannya, lalu duduk seperti tidak terjadi apa-apa. Padahal di dalam dada, mungkin akan ada sesuatu yang mekar diam-diam.

Aku tidak tahu kapan tepatnya aku mulai menyayanginya. Mungkin ketika melihatnya tertawa. Mungkin ketika melihat mata hangatnya ketika menatapku. Atau ketika keras kepalanya yang tak jua retak menghadapi kerasnya hidup. Mungkin ketika mendengar cerita masa mudanya yang tidak selalu baik-baik saja. Mungkin ketika ia bercerita tentang perjalanan, rimba, riam, dan buku yang pernah membentuk cara pandangnya terhadap dunia.

Atau mungkin jauh lebih sederhana: ketika aku menyadari bahwa di antara begitu banyak orang yang bisa kuceritakan sesuatu, aku ingin dia menjadi orang pertama yang mendengarnya. Entah kenapa, ketika bahagia datang, namanya ikut muncul di kepala. Seperti orang yang harus tahu, meski sebenarnya tidak punya kewajiban apa-apa untuk tahu.

Seperti suatu sore ketika aku mendapatkan kabar baik. Di tengah suara musik yang terlalu keras dan orang-orang yang sibuk dengan urusannya masing-masing, tanganku gemetar ketika menulis:

“Some moments of happiness feel incomplete until I’ve shared them with you, Bapak”

Aku berhenti beberapa detik sebelum menekan tombol kirim.

Lucu.

Aku sudah melewati banyak hal dalam hidup. Pernah berada di hutan dengan peralatan seadanya. Pernah tergantung di tali kermantel dengan karabiner terbuka. Pernah berdebat sampai urat leher menegang. Pernah menghadapi orang-orang yang jauh lebih sulit daripada sekadar seorang laki-laki yang tidak kunjung membalas pesan. Tapi mengirim satu kalimat kepadanya membuat tanganku gemetar. Barangkali karena aku tahu, dalam kalimat itu ada sesuatu yang tidak kukatakan.

Aku ingin kamu ada di dalam kebahagiaanku.

Dia hanya membalas dengan sebuah sticker senyum. Aku tertawa. Lalu menyimpan ponsel. Begitulah cinta kadang bekerja. Cinta tidak selalu memberi kita adegan besar. Tidak ada biola yang tiba-tiba mengalun. Tidak ada seseorang berlari mengejar kereta. Tidak ada pengakuan di bawah hujan sambil menekuk lutut. Kadang hanya sebuah stiker di What’s App. Dan kita belajar menerimanya.

Aku pernah berpikir, mungkin suatu hari nanti ia akan berkata,

“Jangan panggil saya ‘Bapak’.”

Aku akan pura-pura bingung.

“Lalu panggil apa?”

Dan dia akan tertawa.

“Panggil saya ‘Mas’.” Mungkin aku akan tertawa terlalu keras. Mungkin aku akan menunduk supaya dia tidak melihat mataku yang tiba-tiba hangat.

Tapi hidup rupanya tidak selalu berjalan menuju adegan yang sudah kita tulis diam-diam di kepala. Ada hal-hal yang tumbuh hanya sampai batas tertentu. Ada pertemuan yang begitu indah tetapi tidak menjadi rumah. Ada orang yang datang membawa cahaya, tetapi tidak tinggal untuk melihat bagaimana kita menyalakan lampu ketika malam. Dan ada cinta yang tidak gagal hanya karena ia tidak menjadi hubungan.

Aku pernah sangat menyayangi seorang laki-laki. Aku pernah berharap bisa memanggilnya “Mas”. Tetapi ternyata tidak semua cinta harus sampai pada bentuk yang kita bayangkan. Mungkin cinta hanya ingin mengajari kita bahwa hati masih bisa berdebar setelah kita mengira semua pintu sudah lama kita tutup. Mungkin ia datang bukan untuk dimiliki, tetapi untuk mengingatkan bahwa kita masih hidup. Dan mungkin suatu hari nanti, ketika aku sudah tidak lagi menunggu apa pun darinya, aku akan mengingat semua ini dengan senyum.

Aku akan mengingat bagaimana matanya menunduk ketika kutatap terlalu lama. Bagaimana tawanya membuatku jatuh cinta. Bagaimana ia bercerita tentang masa lalunya, dan aku mendengarkan seperti seorang anak yang baru menemukan buku kesayangannya. Bagaimana aku pernah ingin sekali mengatakan,

“Mas…”

Dan bagaimana kata itu akhirnya tetap tinggal di dalam kepalaku. Tidak pernah menjadi sapaan. Hanya menjadi sebuah alamat kecil bagi rindu. Barangkali memang begitu. Kita tidak selalu mendapatkan orang yang kita cintai. Tetapi kita selalu mendapatkan sesuatu setelah mencintainya. Aku mendapatkan keberanian untuk kembali membuka hati. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak takut jika ternyata hati itu patah lagi.

Sebab aku tahu: pernah mencintai seseorang dengan sungguh-sungguh adalah juga sebuah cara untuk pulang kepada diri sendiri.

Kalibata, 30 September 2026

Note: Salah satu sudut kafe di Kalibata, ketika kepala penuh dan playlist satu lagu berulang-ulang:
Ever Since The World Began by Survivor (The legendary Chicago rock band formed in 1978 by guitarist/songwriter Jim Peterik).

*Kalimat ini terinspirasi dari judul novel “Panggil Aku Kartini Saja” Pramoedya Ananta Toer (1982).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *