Titik Kartitiani

Menu
  • Home
  • Articles
  • Notes
  • Fiction
  • Books
  • Speaker
  • About
Linkedin Instagram Facebook
  • Short Story

    Panggil Saya “Mas” Saja*

    September 30, 2026 - By Titik Kartitiani

    Aku pernah sangat menyayangi seorang laki-laki. Aneh, ya, bahkan sampai sekarang aku masih kesulitan menyebutnya dengan kalimat yang sederhana. Sebab menyayangi seseorang ternyata tidak selalu berarti ingin memilikinya. Kadang menyayangi hanya berarti: ingin tahu apakah ia baik-baik saja, ingin mendengar tawanya, ingin duduk di dekatnya tanpa harus banyak bicara. Kadang…

    Continue Reading
  • Short Story

    Kavling Langit (2): Tanah Yang Melahirkan Para Penjelajah

    November 21, 2016 - By Titik Kartitiani

    Kamu pernah bercerita tentang tanahmu, Tanah Biru. Tanah yang bersetubuh dengan laut, sifatnya “nyaru” seperti sifat keperkasaan laut. Keperkasaan tanahmu yang begitu memikat, menarik orang-orang-orang bermata biru untuk bertandang. ‘Saya tidak tahu cara menggambarkan dengan pasti. Kamu akan tahu saat berkunjung’. Tanah yang kebiruan. Biru lazuardi. Pernah kautunjukkan sebuah peta…

    Continue Reading
  • Short Story

    Kavling Langit (1)

    November 21, 2016 - By Titik Kartitiani

    Aku bukan orang laut dan tak begitu suka dengan laut. Tapi kali ini, aku menemukan laut yang bercerita, laut yang beraroma hasrat. Laut yang kemudian menelan kisahmu. Benarkah laut yang melahirkanmu bisa setega itu untuk melenyapkanmu?Aku dan orang-orang yang menyayangimu mencari jawab.  Aku, yang bukan orang laut, kemudian menjelajah laut…

    Continue Reading
  • Short Story

    Requiem Ingatan, Sinar Harapan, Maret 2011

    September 24, 2016 - By Titik Kartitiani

    Harum bunga melati menyelimuti beranda itu. Senyap. Sekali lagi, lelaki itu menatap wajah lelap di depannya. Wajah perempuannya yang ditemuinya ketika bangun pagi. Mungkin sudah lebih dari 30 atau 40 perjalanan matahari. Dia tidak ingat persis. Dia tidak memerhatikan detail, sebagaimana perempuan itu mampu mengingat berapa helaian rambut yang jatuh…

    Continue Reading
  • Short Story

    Monokrom

    April 10, 2015 - By Titik Kartitiani

    Ceritakan padaku tentang warna, katamu padaku. Maka aku pun bercerita tentang rose. The rose is without an explanation: she blooms,because she blooms . Bukan merah, kuning, atau jingga. Tapi warna sedih, warna bahagia, atau warna jatuh cinta. Engkau tak membutuhkan mata yang sempurna untuk mengenalinya. Jika kesempurnaan itu adalah bisa…

    Continue Reading
  • Short Story

    Dinding Merah Dengan Lukisan Bunga Putih

    March 6, 2015 - By Titik Kartitiani

    Tiba – tiba saya menemukan dinding merah itu lagi. Tidak sengaja. Di sebuah pameran lukisan, jauh dari kota kita. Saya tidak menyangka, ada sepotong dinding yang sama persis dengan dinding kamarmu yang pernah menjadi ruang kita. Dinding merah yang kita bikin berdua dengan sisa cat gapura 17 Agustus. Sebenarnya itu…

    Continue Reading
  • Short Story

    Anak-Anak Hujan

    February 23, 2015 - By Titik Kartitiani

    Anak – anak hujan itu berlarian adu cepat, berloncatan di antara pucuk pohon sebelum mereka luruh menghantam bumi. Usia mereka hanya beberapa detik bagi waktu manusia. Hanya saja, sesaat adalah abadi * bagi anak-anak hujan yang terlahir dari rahim mendung lantas melintasi separuh angkasa. Menyapa semua rasa yang masih bisa…

    Continue Reading
  • Short Story

    Sadawaning Rel Malang – Jakarta (kababar ing Jayabaya, Februari 2005)

    February 2, 2015 - By Titik Kartitiani

    dening: Titik Kartitiani Satria ! Sapa se sing ga kenal dheweke. Ing kalangan aktivis, politikus apa maneh wartawan, kabeh mesthi kenal. Penampilane prasaja, nanging supel. Kahanan dadi sumringah yen ketekan dheweke. Ana ae sing diomongke lan kabeh mesthi isa gawe guyu. Mulane, yen lagi liputan nang lembaga pemerintah utawa DPRD,…

    Continue Reading
  • Short Story

    Sayap – Sayap Senyap (dimuat di Pikiran Rakyat, 6 Januari 2013)

    February 2, 2015 - By Titik Kartitiani

    Oleh : Titik Kartitiani Angin Jakarta menggoyang daun jambu di depan rumah sederhana, salah satu petak di antara jutaan petak yang berebut ruang. Saya melihat siluet lelaki itu, matanya menerawang melintasi teralis jendela, melewati waktu. Saya mengenalnya. Sangat. Terutama sepasang matanya yang tak pernah menua, tak tunduk pada rupa rambut…

    Continue Reading
  • Short Story

    Nada Karat Tembaga

    January 7, 2014 - By Titik Kartitiani

    Aku dengar nafas angin terhisap pelan, seperti berbulir – bulir udara menjelmakan wujudnya. Mereka menari dalam bilah diafragma lantas meluncur gemulai dalam serutan notasi. Setubuh nafas mengalir di rahim flute warna tembaga. Pagi pun lahir dengan konser yang sedemikian megah. Udara menjelma tahta di bibir itu. Wajah kelabu itu ada…

    Continue Reading
 Older Posts