Titik Kartitiani

Menu
  • Home
  • Articles
  • Notes
  • Fiction
  • Books
  • Speaker
  • About
Linkedin Instagram Facebook
  • Articles

    Sebuah Zaman di Secangkir Kopi (National Geographic Traveler, September 2016)

    February 1, 2018 - By Titik Kartitiani

    A cup of java, sebutan untuk kopi yang mendunia. Berawal dari tahun 1893, World’s Columbian Exhibition, Chicago,  di stan Java Village ketika pengunjung berseru “a cup of java” untuk kopi arabika yang ditanam di Jawa oleh Belanda. Saya mengunjungi tempat kopi jawa itu berasal, 2 abad kemudian. Dua cangkir kopi…

    Continue Reading
  • Notes

    Pejalan

    December 12, 2017 - By Titik Kartitiani

    Kapan berhenti? Mungkin suatu hari, ketika ada alasan yang memanggil singgah kembali di meja yang pernah disinggahi. Alasan itu ketika saya merasa tak harus ke mana-mana sekaligus ada di mana-mana. Dan kenyataannya, hal yang selama ini saya kira kata “pulang” itu hanyalah persinggahan. Ya, hanya persinggahan. Harusnya saya tidur awal…

    Continue Reading
  • Poetry

    Suatu Ketika tentang Kabut

    December 11, 2017 - By Titik Kartitiani

    Kita hanya duduk saja, dalam kesunyian musim Menunggu kabut yang menuai janji Ia datang mengendap tanpa derap Menyusup di celah bukit, Tubuh cemara yang menggigil oleh ketidaktahuan Bukankah ia kabut yang akrab? Ada apa di balik tubuh kabut? Kamu bertanya Kujawab, ada cahaya yang menautkan kita Bukankah setiap sel diciptakan…

    Continue Reading
  • Notes

    Duduk di Kim Teng

    November 19, 2017 - By Titik Kartitiani

    Sangat saya sayangkan, kemerdekaan yang diperjuangkan dengan susah payah dan pengorbanan yang tak terkira justru sekarang diporakporandakan oleh kepentingan kelompok yang berbeda (Tan Kim Teng, 1940) Malam telah larut ketika Mbak Uut dan Mas Heri dari LSM Siku Keluang bercerita tentang Kedai Kopi Kim Teng. “Kalau suka kopi, Mbak harus…

    Continue Reading
  • Articles - Uncategorized

    Balinese Indigenous Wisdom Against Food Paradox

    October 24, 2017 - By Titik Kartitiani

    by Titik Kartitiani Ngaben. Thousands of people came, hundreds of tonds of rice during the ceremony cooked, hundreds of pounds of fruits served, dozens of pigs, all food abundance is accompanied by readings this ceremony. Is there any wasted food?     For Balinese, ceremonies such as breathing. Starting to…

    Continue Reading
  • Notes - Uncategorized

    Selamat Ulang Tahun Untukmu, 27 September PMPA KOMPOS FP UNS (Tentang Sebuah Alasan yang Tidak Mutu Masuk Mapala )

    September 27, 2017 - By Titik Kartitiani

    Beberapa minggu lalu, di kereta ekonomi (sekarang AC) dari Malang ke Yogyakarta, gerbong yang saya tumpangi dipenuhi oleh pendaki. Saya satu-satunya penumpang “asing” di rombongan itu. Ketika saya menuju tempat duduk yang ternyata sudah diduduki, penumpang itu buru-buru minta maaf dengan sopan. Ia meringkasi HP yang sedang di-charge, mengenakan sepatu…

    Continue Reading
  • My Books - Uncategorized

    Kritik “Praksis” terhadap Perempuan Menjahit Hujan (Terakota.co.id)

    September 2, 2017 - By Titik Kartitiani

    oleh Cok Sawitri Tentang perempuan realitasnya adalah tukang jahit, lalu menjadi “hiper realitas” ketika diyakini akan membawa pertanda mengenai hujan. Dengan praktis simbol itu dituliskan dalam alur yang mudah diterka sebenarnya. Namun bukan pada kata ‘menjahit hujan” letaknya. Titik Kartitiani, nama ini jika ditulis dapat berbeda makna dengan ketika diucapkan.…

    Continue Reading
  • Articles

    Mereka yang Bergantung pada Matahari (INTISARI, Juni 2017)

    August 5, 2017 - By Titik Kartitiani

    Nun jauh di pulau-pulau yang hanya menyisakan koordinat, matahari (sel surya) menjadi sumber energi untuk memberi nada dari radio dan televisi yang menyala. Untuk mengubah gulita menjadi cahaya di pulau yang mengapung di perairan Indonesia. Ketika mengunjungi pulau-pulau kecil dan terluar Indonesia wilayah kerja Direktorat Pendayagunaan Pulau-Pulau Kecil, Kementerian Kelautan…

    Continue Reading
  • Articles

    Sekeranjang Mimpi Menuju Danau Suci (National Geographic Traveler Indonesia, Juni 2017)

    August 5, 2017 - By Titik Kartitiani

    Kameswara, Raja Kediri (1180-1190) melakukan perjalanan suci ke Gunung Semeru dan danau suci Ranu Kumbolo untuk bersemadi. Demikian prasasti Ranu Kumbolo menuliskan. Di danau suci itu saya menemukan anggrek endemik yang mengisi keranjang mimpi. Bunga kecil warna oranye itu menyembul di celah batang cemara gunung (Casuarina junghuhniana). Batangnya berlekuk kelabu…

    Continue Reading
  • My Books - Notes - Uncategorized

    SGA, Buku, dan Jatuh Cinta

    August 3, 2017 - By Titik Kartitiani

    Mata saya berkaca-kaca adalah ketika Mas Seno dan Pak Dakhidae bercerita betapa dekat mereka dengan buku sejak kecil, khususnya buku sastra. Sementara imajinasi saya dipenuhi oleh Majalah Trubus angganan dari kantor bapak. Saya melahap bagaimana budidaya rosella, knaf, dan jute sejak belia alih-alih cerita Old Shatterhand. Realistis, hijau, dan sangat…

    Continue Reading
 Older Posts
Newer Posts